Prasasty Forum Indonesia

Prasasty Forum Indonesia Download Mp3, Download Game, Download Movie, dll


    Hasnan Singodimayan: Hutan Pantai Selatan Penuh Misteri (5)

    Share
    avatar
    Admin
    Admin

    Jumlah posting : 77
    Join date : 06.09.11

    Hasnan Singodimayan: Hutan Pantai Selatan Penuh Misteri (5)

    Post  Admin on Sun Sep 11, 2011 7:57 pm

    [You must be registered and logged in to see this link.]dok.INTELIJEN

    Di Gunung Tumpang Pitu terdapat sebuah pura, Segara Tawang Alun,
    adakah nilai mistis tertentu terkait keberadaan letak Pura yang
    letaknya di antara pesisir Pantai Selatan dan kaki Gunung Tumpang Pitu?


    Di wilayah Banyuwangi sebelah selatan, dulunya tempat pertapaan Whong
    Agung Wilis. Tokoh setelah Prabu Tawang Alun pada abad 16 ini, berjuang
    melawan kompeni Belanda di daerah Grajagan sampai wilayah selatan
    hingga ke Pulau Merah.

    Di dalam keyakinan umat Hindu ada semacam
    tingkatan menuju kesempurnaan dengan menaiki tingkatan-tingkatan
    tertentu. Adakah hubungan antara pura itu dengan Gunung Tumpang Pitu?

    Memang ada. Whong Agung Wilis itu seorang pendeta yang bertapa di
    daerah selatan namanya “Segoro Kidul”. Di sana beliau adalah seorang
    tokoh yang menggerakkan perlawanan kepada setiap pendatang seperti mulai
    dari orang Bugis, Madura, Islam, Mataram dan terakhir penjajah Belanda.

    Nah,
    itu yang dilawan Whong Agung Wilis dengan dibantu beberapa tokoh di
    antaranya seorang wanita bernama Putri Sayu Wiwit dan Pangeran Jagapati.
    Kedua tokoh ini terus membantu Whong Agung Wilis dalam mempertahankan
    Blambangan di daerah selatan.

    Dari situ, konsentrasi kekuatan di
    pusatkan di daerah selatan, tepatnya di Segoro Kidul karena terkait
    dengan kekuatan Nyai Roro Kidul yang bersifat metafisis. Memang
    tempatnya setelah kita ketahui, strategis betul.

    Karena itu,
    ketika Jepang menduduki Indonesia selama periode 1942-1945 dibuatlah goa
    yang dijadikan sebagai tempat pertahanan mereka, seperti daerah Pulau
    Hijau dan Gunung Tumpang Pitu itu.

    Menurut sejarahnya memang,
    tempat itu dulunya digunakan sebagai pusat konsentrasi kekuatan
    orang-orang Blambangan yang dipimpin Whong Agung Wilis untuk menyerang
    wilayah Muncar (dahulu bernama Luhpangpang).

    Itu satu nama kota
    kabupaten bandar yang diserang dan direbut paksa kompeni Belanda. Di
    daerah selatan, pusat kegiatan perikanan wilayah Banyuwangi di dekat
    Meru Betiri tetapi lebih ke timur lagi menghadap Selat Bali. Di sana
    banyak terdapat situs-situs Kerajaan Blambangan antara lain Sitingkil,
    Umpak Songo dan lainnya.

    Menurut informasi masyarakat
    sekitar, ada cerita terkait ditemukannya harta karun. Apakah ini
    berhubungan dengan keberadaan pura itu sendiri?


    Benar, ini terkait dengan sejarah Blambangan. Di sana terdapat
    Kerajaan Macan Putih dengan seorang rajanya yang bernama Prabu Tawang
    Alun yang juga seorang petapa.

    Letaknya ada di antara Gunung
    Raung dan Gunung Ijen. Di sebelah selatan Gunung Meru Betiri, sebelah
    timur Bali (wilayah Alas Purwo) dan sebelah utara Pulau Merah.

    Jadi, Meru Bertiri dengan Alas Purwo itu satu jalur, nah Gunung Ijen itu terletak di tengah-tengahnya.

    Ketika
    dahulu ada upacara keagamaan dengan meletakkan sesaji, salah satunya
    berupa koin emas yang diletakkan di daerah gua-gua di situ. Itu syarat
    untuk menuju kesempurnaan.

    Akibat banyaknya sesaji itu maka
    sekarang para kapitalis Jakarta termasuk Bupati Banyuwangi pun
    ikut-ikutan menganggap ada tambang emas padahal tidak ada sama sekali.

    Tapi
    kalau banyak tersebar koin-koin emas memang benar adanya, yakni di
    laut, di gua-gua dan sekitar Pura Segara dan tempat pertapaannya Whong
    Agung Wilis di puncak itu. Adanya koin itu karena upacara keagamaan
    yang menuju tempat bertapanya beliau yang juga merupakan tokoh
    Blambangan menantu dari Kerajaan Mangui.

    Jadi, Kerajaan Macan
    Putih dengan Kerajaan Mangui itu ada keterkaitan sejarah dan darah.
    Kemudian, mengenai keberadaan sarang burung walet di sana benar dan
    banyak jumlahnya. Ini kaitannya dengan mistis.

    Kalau kita menemukannya maka hari itu juga harus diambil kalau tidak, maka akan hilang nanti, itu sudah syaratnya.

    Sarang
    burung walet banyak terdapat di daerah Pulau Merah lalu tebing Pulau
    Hijau di sebelah timurnya sampai wilayah Grajagan di Alas Purwo.

    Di
    sana juga ada terdapat pura peninggalan jaman kuno tapi saya belum tahu
    dari mana asalnya, nama pura itu Giri Seloka. Saya melihat ada kesamaan
    antara Pura Segara Tawang Alun dengan Pura Giri Seloka.

    Alas
    Purwo juga tempat yang paling banyak dikunjungi untuk tujuan meditasi
    dari berbagai latar belakang etnis dan religius dari berbagai daerah.

    Gua-gua
    meditasi itu adalah Gua Istana, Gua Putri dan Gua Padepokan selain Gua
    Macan yang memang mempunyai nilai mistis tinggi. Kalau setiap malam satu
    Suro, sudah pasti Alas Purwo banyak dikunjungi orang.

    Mereka
    datang dengan berbagai tujuan, memang Alas Purwo bagi sebagian besar
    masyarakat Banyuwangi dikenal sebagai tempat yang sangat wingit dan
    mistis.

    Biasanya wilayah sekitar pura seharusnya dijaga dan
    dilestarikan alamnya tetapi di atas Pura Segara Tawang Alun ini terdapat
    aktivitas eksplorasi tambang emas. Mengapa hal ini bisa terjadi?


    Itu terjadi karena isu saja sehingga membuat masyarakat sekitar jadi
    tergiur. Sebenarnya itu bukan tambang emas tetapi koin-koin emas, patung
    atau benda-benda lain yang masih banyak tersebar di sana akibat buangan
    sesaji upacara keagamaan.

    Terutama di wilayah Alas Purwo, jadi
    bukan berarti disitu ada tambang emas. Isu mengenai keberadaan tambang
    emas, baik di Tumpang Pitu, Pulau Merah sampai Alas Purwo itu tidak ada.

    Jika
    ditinjau dari aspek mitologis, metafisis dan kosmis pada kawasan
    tersebut. Manfaat apa yang bisa diambil pada kawasan tersebut?


    Tokoh Prabu Tawang Alun dan Whong Agung Wilis itu adalah seorang raja
    sekaligus pendeta yang sering melakukan meditasi atau pertapaan. Ini
    terkait dengan keseimbangan hubungan antara jagat besar dan kecil.

    Dari
    sisi mitologi, menurut Prapat Agung, ada satu mitos yang menyatakan
    bahwa Blambangan dengan Bali itu satu pulau atau daratan kemudian pecah
    dan jadilah seperti sekarang.

    Dari sisi metafisis dan kosmisnya,
    ditinjau dari batin atau spiritual perpaduan antara bio-plasma dan
    bio-elektron yang terdapat di setiap jiwa seseorang seperti Whong Agung
    Wilis yang membaur dengan bio-plasma yang ada di lingkungan sekitar maka
    akan terjadi suatu kekuatan bio-energi.

    Bio-energi merupakan
    kekuatan alamiah yang hebat, berasal dari energi batin sebagai sumber
    kehidupan dan memenuhi alam semesta yang membawa dampak positif.
    (INTELIJEN)

      Waktu sekarang Thu Nov 23, 2017 4:51 am