Prasasty Forum Indonesia

Prasasty Forum Indonesia Download Mp3, Download Game, Download Movie, dll


    Emas di Tumpang Pitu

    Share
    avatar
    Admin
    Admin

    Jumlah posting : 77
    Join date : 06.09.11

    Emas di Tumpang Pitu

    Post  Admin on Sun Sep 11, 2011 8:25 pm

    Emas di Tumpang Pitu

    Oleh Siti Maemunah

    “Menurut perusahaan, Sianida akan netral jika bertemu air laut, karena Sianida bersifat
    asam, sementara air laut bersifat basa. Ia tak akan berbahaya lagi,” ungkap Ari Untoro
    dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Propinsi Jatim, pada sebuah Talkshow di
    radio Fajar FM Banyuwangi. Sianida adalah bahan kimia berbahaya. Seukuran biji beras
    saja, ia bisa berakibat fatal bagi manusia, sepersejuta gramnya dalam seliter air - bisa
    fatal bagi ikan.

    ***

    “Kami sudah bilang mbak, sama kepala desa, kami tidak mau bertemu dengan
    perusahaan”, kata Sugeng di telpon malam itu. Sugeng adalah nelayan Pancer, sebuah
    dusun kecil dibawah kawasan hutan lindung Gunung Tumpang Pitu, Banyuwangi –
    kabupaten paling timur Pulau Jawa.

    Sugeng memberitahu, rencana pertemuan warga membicarakan tambang emas di
    Tumpang Pitu, kawasan pegunungan – ratusan meter diatas kampungnya. Suaranya
    terdengar gusar.

    Majelis Wilayah Cabang Nahdatul Ulama - sebuah ormas keagamaan, akan
    memfasilitasi pertemuan antara perusahaan dengan warga. Padahal - menurut Sugeng,
    warga sudah sepakat, tak mau ada pertambangan emas di kawasan itu. Oleh karenanya,
    mereka tak mau lagi ada pertemuan sosialisasi dan sejenisnya.

    Tapi pertemuan tanggal 5 maret itu, ternyata tetap dilakukan. “Kami akhirnya
    memutuskan datang. Kami duduki semua kursi yang disediakan panitia. Ada sekitar 500
    kursi. Setelah itu, kami membacakan pernyataan penolakan bersama terhadap
    pertambangan emas itu. Dan segera pulang selesai membacakannya,” lanjut Sugeng.

    Itu telpon Sugeng awal bulan lalu. Tiga minggu kemudian saya pergi ke Jember. Kota ini,
    hanya dua jam dari Banyuwangi. Disini, saya bertemu Lukman, salah seorang
    mahasiswa S2 Universitas Jember. Ia baru mengunjungi Sungeng di rumahnya. Dari
    Lukman, saya tahu banyak tentang Pancer dan rencana tambang itu.

    Pancer adalah dusun kecil di desa Sumber Agung Pesanggaran. Sebagian besar
    warganya hidup sebagai nelayan, hanya sebagian kecil yang menjadi petani. Nelayan
    bergantung kepada perairan laut teluk Pancer. Sementara sumber pengairan sawah-sawah
    dusun Pancer bergantung pada sungai Gonggo, yang hulu sungainya ada di Gunung
    Tumpang Pitu.

    Teluk Pancer juga kaya ikan. Dari nelayan penangkap ikan, sedikitnya setengah ton ikan
    berhasil dikumpulkan para pengepul tiap harinya. Ada tiga pengepul ikan disana. Ikan-ikan itu kemudian di bawa ke Muncar – pelabuhan lelang ikan terbesar di Indonesia.

    Sebagian wilayah Banyuwangi dikelilingi laut. Tak hanya kaya ikan, kawasan lautnya
    juga indah dan banyak dikunjungi wisatawan.

    Menurut Sugeng dan nelayan lainnya, arus laut perairan Pancer memiliki dua arah. Satu
    ke timur, lainnya ke barat. Kearah barat, arus laut menuju laut Puger Jember hingga
    pulau Sempu dan Sendang biru malang. Sementara ke arah timur menuju Rajegwesi,
    Grajagan dan Muncar.

    “Setelah Tsunami tahun 1994 perekonomian warga Pancer pulih. Bisa dibilang,
    perekonomian mereka cukup baik. Handphone sudah menjadi alat komunikasi umum
    disana, penghasilan harian nelayan mencapai Rp. 100 ribu hingga Rp 200 ribu. Hampir
    tiap rumah memiliki televisi, juga toilet sendiri”, kata Lukman.

    Hanya dari Pancer. Tiap tahunnya, pemerintah daerah mendapatkan pemasukan retribusi
    sekitar Rp 35 juta.

    Itu kabar baiknya, tapi ada juga kabar buruknya, tambah Lukman. Pagi itu, kami sedang
    cangkru’an di warung kopi dengan Campus Centre Universitas Jember. Cangkru’an
    istilah gaul untuk nongkrong, biasa dipakai di Jawa Timur.

    Kabar buruknya adalah rencana tambang emas di kawasan tumpang Pitu, pas diatas
    dusun Pancer. Nama perusahaannya PT Indo Multi Niaga (PT IMN). Ia sedang
    mengajukan permohonan alih fungsi kawasan hutan lindung dalam KPH Banyuwangi
    Selatan. Tepatnya pada Petak 75, 76, 77 dan 78.

    Blok yang akan ditambang, luasnya 11.621 ha. Kabarnya, tiap 1 ton batuan mengandung
    2,3 gram emas. Artinya, ada 999,9 ribu gram batuan yang akan dibuang menjadi limbah.
    Baik limbah batuan ataupun berbentuk lumpur tailing.

    Tak jelas berapa emas yang dikandung Tumpang Pitu. Tapi Sugeng dan warga Pancer
    membutuhkan penjelasan lain. Kemana limbah tambang emas akan dibuang?

    Pertanyaan itu terjawab pada sebuah talkshow radio di Fajar FM Banyuwangi – tanggal
    19 Maret lalu. Topiknya, “Kenapa Sikap Bupati mengambang terhadap Rencana
    tambang”. Disitu, ada Lukman – mewakili Walhi Jatim dan Bapak Abdul Kadir – kepala
    Humas Pemkab Banyuwangi. Keduanya diminta menjadi narasumber.

    Perusahaan sedang menyusun AMDAL. Rencananya mereka akan membuang limbah
    tailingnya ke Teluk Pancer. Pilihan lainnya, limbah akan dibuang ke darat. Pilihan kedua,
    akan meenggunakan sekitar 250 ha lahan pertanian warga. akan menjadi kawasan
    buangan limbah tailing. Itu inti informasi yang disampaikan oleh sang Humas.

    Tapi ada info yang mengejutkan dari talkshow tersebut. Saat sang penyiar meminta juga
    komentar dari Ari Untoro dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Jawa Timur. Ujarnya, “Menurut perusahaan, mereka menggunakan teknologi ramah lingkungan
    karena tak menggunakan Merkuri. Hanya menggunakan Sianida. Sianida akan netral jika
    ketemu air laut. Sianida bersifat asam sementara air laut bersifat basa, sehingga ia tak
    berbahaya”.

    Jika ucapan itu benar, tentunya pemerintah tak perlu membatasi Sianida yang dibuang ke
    laut. Toh nanti akan netral. Nyatanya, di Indonesia setiap limbah mengandung logam
    berat tak boleh sembarangan dibuang ke perairan, termasuk yang mengandung Sianida.
    Ada ambang batas yang harus dipatuhi. Di Argentina, bahkan ada setengah lusin propinsi
    melarang penggunaan bahan kimia beracun di pertambangan – termasuk Sianida.

    Sianida adalah bahan kimia berbahaya. Seukuran biji beras saja, ia bisa berakibat fatal
    bagi manusia, sepersejuta gramnya dalam seliter air - bisa fatal bagi ikan.

    Saya jadi ingat kasus Newmont di teluk Buyat Sulawesi utara. Perusahaan asal Amerika
    Serikat ini, memakai Sianida untuk memisahkan emas dari batuan. Dan limbah tailingnya
    dibuang ke laut teluk Buyat. Ia menggunakan standar peraturan lingkungan yang ada.
    Semuanya disebutkan lengkap di dokumen AMDAL.

    Dilapang, terbukti AMDAL tak bisa menjamin keselamatan warga sekitar. Sejak limbah
    dibuang ke teluk Buyat, ikan-ikan susah ditangkap, penghasilan nelayan menurun drastis.
    Ada juga ikan-ikan dasar, yang tumbuh benjolan dekat ekornya. Warga Buyat Pante juga
    mengeluhkan berbagai gangguan kesehatan. Mulai gatal-gatal, tumor, kram-kram,
    lumpuh dan penyakit lainnya, hingga tambang berhenti beroperasi.

    Akhirnya, sebanyak 66 keluarga memutuskan pindah dari teluk Buyat, dua tahun lalu.
    Sementara di kampung Buyat – tetangga mereka, sekarang kabarnya makin banyak orang
    menderita sakit. Angka kematian tinggi – tak seperti biasanya. Hasil penelitian
    Kementrian Lingkungan Hidup menyebutkan, sumur-sumur warga disana tercemar
    logam berat Arsen.

    “Apa benar limbah yang mengandung Sianida akan netral dan tak berbahaya jika dibuang
    ke laut mbak?,” tanya sugeng, pada kali berikut ia menelpon.

    Ini DeJavu. Bagai mengulang cerita sama. Warga Buyat pernah bertutur dulu, diawal
    masuknya tambang, Newmont juga memberikan info serupa: limbah tailing tidak
    berbahaya. Sianida akan netral jika bertemu dengan air laut.

      Waktu sekarang Thu Nov 23, 2017 4:44 am